Sunday, April 01, 2007

Ritual saat hamil

Speaking of pregnancy... Hmmm.... There are bunch of things to discuss. *bentar... mmm, pepaya potong siram air jeruk nipis.. vitamin C for the day. A bite anyone?*

3 kejadian besar yang sepenuhnya ada di tangan takdir ALlah adalah kelahiran (dan kehamilan), jodoh, dan kematian. Dan di 3 hal ini pula kita akan menjumpai banyak sekali mitos dan ritual yang berbeda untuk tiap budaya.

Soal hamil, *kurasa* ibu-ibu Jawa paling cerewet karena paling banyak aturan & ritualnya (setidaknya ini yang kurasakan di tengah keluarga Jawa, entah di suku lain gimana). Yang paling dikenal biasanya adalah mitoni atau tujuh bulan-an. Aku ngga bisa cerita detil soal ini, karena aku ngga melakukannya. Yang pasti sih ada mandi kembang gitu (eugh, mandi aja ditonton orang..!).

Setelah itu ada anjuran minum minyak kelapa supaya proses melahirkannya lancar (apakah ini maksudnya minyak kelapa sebagai pelumas? kayanya 'jalur'nya ngga nyambung ya, yang satu pencernaan, yang lainnya reproduksi), minum air kelapa muda hijau (degan) supaya bayinya lahir dalam keadaan mulus, dan makan bubur 'procotan' supaya proses melahirkannya mudah (ini seperti bancakan tapi menunya bubur beras campur pisang.. enak juga hehe).

Di luar itu ada banyaaakk larangan dan 'kewajiban'. Misalnya, mandi sore tidak boleh lewat dari jam 5 (alasannya dingin.. tapi di Dago mah siang jam 3 juga kalo mandi tetep dingin.. ngga relevan dong ya?), makan malam paling telat jam 6 (alasannya nanti gendut.. halah, aku makan jam 8 tiap hari kok ya ngga gemuk-gemuk), ngga boleh makan es krim/minum air es, ngga boleh menjahit (termasuk masang kancing! katanya nanti jari-jari anaknya dempet.. haiyah! ibuku penjahit dan anaknya normal semuah!), dan lain-lain (ngga tau lagi, ada yang bisa bantu?).

Yang mulai jarang dijadikan materi 'pesan' adalah kebiasaan 'wajib' seperti memasang peniti di baju yang dipakai (aduh, kalo ketusuk gimana?), menyimpan gunting di bawah bantal (ckk.. ckk.. membahayakan jiwa neh).. ngg.. apalagi ya? Taunya cuma itu.

Soal larangan, semuanya aku langgar hehehe (bukan dengan maksud berbangga, sih)... Di Solo kan panas, jadi aku mandi paling ngga ya jam 6 sore (kalo lebih awal, bajunya ntar udah keburu basah keringat sebelum makan malam).

Makan ya kapan aja pas aku laper. Yang dimakan ya apa aja, kalo lagi maleeeeesss banget makan nasi, aku makan coklat, paling banter biskuit, kentang, roti, atau ketan. Iya iya... yang kusebut itu emang sumber kalori juga, tapi kan orang Jawa itu prinsipnya kalo belum makan nasi ya ngga bisa dibilang 'makan'! Jadi ini perjuangan!

Aku juga suka es krim. Susu khusus ibu hamil ngga enak, jadi apapun sumber kalsium jadi lah. Dari es krim sampe yoghurt.. yumm. Aku juga masang kancing dan menambal sedikit bagian baju kakanda yang lepas jahitannya.

Aku ngga minum minyak kelapa, mbayanginnya aja udah eneg. Tapi soal air kelapa muda dan bubur procotan itu, aku konsumsi dengan senang hati. Aku emang suka air kelapa, dan aku suka pisang. Walaupun sebenernya pas dikasih bubur itu aku ngga tau maksudnya apa.

Kalau ditinjau kembali, kayanya banyak banget ya aturannya? *jadi kasian sama perempuan Jawa tulen* Berhubung aku 'bukan Jawa' ya aku merasa boleh dan berhak menolak dengan sewenang-wenang segala alasan yang tidak ilmiah tersebut hehehe... Toh, alhamdulillah, Ibrahim lahir selamat, mulus, dan jarinya ngga dempet.

Read more!

Tuesday, December 12, 2006

Alami Tak Selalu Aman

Pemahaman yang umum di masyarakat kita adalah membagi produk 'kesehatan' (dan atau obat) menjadi dua kubu ekstrim: alami dan sintetik. Padahal di jaman teknologi modern seperti ini sulit sekali menemukan produk yang 100% dari bahan alam TANPA menyertakan bahan sintetik (baik sebagai pengisi, campuran, wadah/kapsul, atau perisa) sama sekali.

Memang tidak mustahil. Tapi jika jamu dikemas dalam bentuk kapsul, tidak ada jaminan bahwa bahan pembuat kapsul tersebut tidak mengandung senyawa sintetik kecuali dinyatakan pula komposisi bahan kapsul tersebut.

Kesalahpahaman yang lebih mengkhawatirkan (bagi saya) adalah membuat (dan mengamini) pernyataan bahwa jika alami maka aman.

TIDAK SEMUA YANG ALAMI ITU AMAN !

Saya sangat prihatin terhadap klaim iklan suatu 'obat' diare populer.

Mengapa kita pilih yang alami? Karena alami itu aman.

Sembari tampilan menunjukkan "ALAMI = AMAN". Ini kesimpulan yang tergesa-gesa dan memaksakan, demi memberi dasar bahwa produk yang ditawarkannya dijamin aman. MENYESATKAN!

Herba tidak sepenuhnya aman, karena tanaman obat pun mengandung racun, dan penggunaannya memerlukan berbagai kondisi yang berbeda.

Tahukah anda, bahwa buah-buahan dan sayuran tertentu secara alami menghasilkan sianida? Simak artikel di CFIA (Canadian Food Inspection Agency).

Dan tahukah anda, mahkota dewa si tanaman 'dewa' (karena klaim penyembuhan berbagai penyakit oleh buah ini sungguh memesona) selain penyembuh yang manjur juga merupakan racun yang kuat?

Dan bahwa sebab utama mengapa anak berusia di bawah 1 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi madu adalah karena adanya bakteri penghasil botulin si racun alami paling kuat?

Aturan Main dalam Mengonsumsi Obat Herbal

Inti informasi yang benar adalah: untuk mendapat efek yang diinginkan dari sesuatu, gunakan sesuai aturan. Aturan dalam hal obat herbal mencakup beberapa hal yang penting untuk diketahui:

  • Sifat dan khasiat. Bahasa kerennya: indikasi.
  • Kandungan kimia, misalnya antihistamin, alkaloid, saponin, dan lain-lain.
  • Bagian yang digunakan.
  • Cara pemakaian (ditumbuk, direbus, atau diseduh? berapa banyak dan berapa kali dalam periode seberapa?).
  • Efek farmakologis.
  • Catatan penting, misalnya larangan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil

Penggunaan tanaman obat harus berdasarkan asas manfaat dan keamanan. Jika bermanfaat untuk penyembuhan penyakit, tetapi tidak aman karena beracun, harus dipikirkan kemungkinan timbulnya keracunan akut maupun keracunan kronis yang mungkin terjadi.

Intinya, risiko dan keuntungannya harus ditimbang baik-baik. Hal ini berlaku pula untuk obat 'konvensional'.

Aturannya banyak? Iya memang! Bukan mentang-mentang alami lalu mengarang sendiri dosis dan racikannya. Jangan sampai terjadi 'kecelakaan' akibat sok tahu dalam berurusan dengan obat herbal.

Terapi Bersama: Herbal dan Konvensional

Yang penting untuk diingat juga: jika anda mengonsumsi obat herbal BERSAMAAN dengan obat 'konvensional', pastikan untuk mengatakan yang sebenarnya pada dokter anda. Mengapa penting? Karena senyawa dalam obat herbal bisa saja bereaksi dengan senyawa dalam obat 'konvensional', yang efeknya bisa jadi fatal.

Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa dokter tidak akan memperbolehkan mereka mengonsumsi obat herbal jika dokter tersebut tahu. Di luar 'sentimen' tertentu (misalnya bahwa dokter 'benci' obat herbal dan hanya mendukung konsumsi obat 'konvensional'), informasi ini sebenarnya penting demi keamanan pasien itu sendiri.

Nyatanya ada saja dokter yang memperbolehkan pasiennya menjalani terapi dengan obat herbal dan obat 'konvensional' berbarengan. Tentu dengan catatan bahwa kedua jenis obat tidak memberi reaksi yang memperburuk kondisi kesehatan. Dokter tenang, pasien bisa senang karena punya kendali dalam memilih pengobatan yang diinginkan.

Keputusan Mengonsumsi Obat dan Suplemen Herbal

Didik diri anda sendiri. Pelajari sebanyak mungkin mengenai obat herbal yang akan/sedang anda konsumsi. Tanyakan pada dokter atau praktisi pengobatan herbal.

Ikuti dosis yang dianjurkan. Jangan melebihi yang direkomendasikan, dan cari tahu tentang kontra indikasinya.

Perhatikan efek samping yang mungkin timbul, misalnya mual, pusing, sakit kepala, atau sakit perut. Jika terjadi, turunkan dosis atau hentikan pemakaian.

Waspada terhadap reaksi alergi. Reaksi yang parah dapat menyebabkan kesulitan bernafas.

Pelajari profil produsen. Obat dan suplemen herbal tidak dibuat sama, sehingga ada baiknya untuk memilih merk yang telah dikenal baik. Tanyakan pada diri anda sendiri:

  • Apakah produsen terlibat dalam penelitian produknya sendiri atau hanya mengandalkan penelitian yang dilakukan oleh orang lain?
  • Apakah produk tersebut memberi klaim yang bombastis, begitu muluk sehingga sulit dibuktikan kebenarannya?
  • Apakah produk tersebut memberikan informasi mengenai racikan terstandar, efek samping, komposisi, aturan pakai dan perhatian khusus (precaution)?
  • Apakah label informasi nampak jelas dan mudah dibaca?
  • Apakah ada nomor telepon pengaduan konsumen, alamat, atau alamat situs yang tercantum agar konsumen dapat mencari tahu lebih banyak mengenai produk tersebut?

Keputusan Pribadi

Keputusan untuk menjalani pengobatan dengan metode yang manapun sifatnya pribadi. Tak dapat dipaksakan oleh siapapun. Keputusan yang tepat untuk seseorang belum tentu tepat juga jika diterapkan pada orang lain, dan belum tentu pula tidak manjur.

Buat keputusan dengan pikiran jernih. Jangan hanya mengandalkan kesaksian orang lain yang pernah memakai produk tersebut karena reaksi tubuh seseorang tidak selalu sama. Apalagi kesaksian yang diberi sepihak oleh produsen, yang tidak dapat anda selidiki kebenarannya.

Sadari bahwa bagaimanapun, keputusan selalu berpulang ke tangan anda. Hanya anda yang bertanggung jawab atas kesehatan anda. Kendali ada di tangan anda.

Original post and comments can be viewed here.

Read more!

Tuesday, November 28, 2006

Iklan Vitamin C

Kenapa ya, akhir-akhir ini produsen senang sekali memberi dosis tinggi? Supaya harganya lebih mahal? Supaya konsumen tertarik? Supaya kelihatan 'peduli' pada kesehatan?

Dari "Mengandung DHA paling tinggi" sampai "Vitamin C dosis tinggi" atau "Minum sekarang, untuk nanti" (atau semacam itulah.. emang vitamin & mineral bisa ditabung gituh?), produsen berusaha bilang ke objek iklannya bahwa mereka membutuhkan produk dengan zat tertentu yang konsentrasinya tinggi. Setahu sayah, -dan dibenarkan oleh dr. Wati tercinta serta prof. Sri Rahardjo dari UGM- yang namanya nutrisi tidak bisa ditabung, apalagi mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Kedua mahluk ini dibutuhkan dalam jumlah kecil setiap harinya, dalam artian asupannya bersifat wajib setiap hari dalam dosis yang sesuai dengan yang dibutuhkan (sebab kelebihannya akan dibuang).

Paling gencar adalah iklan suplemen vitamin C dan kalsium (so far begitu sih, walaupun penasaran juga dengan iklan "Vitamin otak" yang entah binatang nutrisi apa yang dimaksud, saya belum tahu). Dosis konsumsi vitamin C adalah 90 mg/hari (untuk laki-laki berusia lebih dari 18 thn); 75 mg/hari (untuk perempuan berusia lebih dari 18 thn); 85 mg/hari (untuk ibu hamil berusia lebih dari 18 thn); 120 mg/hari (untuk ibu menyusui berusia lebih dari 18 thn). Jadi kebutuhan vitamin C paling tinggi adalah pada ibu menyusui, sebesar 120 mg/hari.

Dan apa yang kita saksikan di iklan hampir setiap hari? "One thousand miligrams of vitamin C", says Amelia Vega, "Vitamin C 1000 mg, agar tak mudah sakit", kata iklan lain. Hampir 10 kali lipat dari kebutuhan ibu menyusui! Lalu, kemana sisa vitamin C yang tidak terserap? Tentu saja keluar lagi dalam bentuk larutan (alias terlarut dalam air, begitu...), which is keringat dannnn... pipis!!!

So what? So... pipis anda-anda sekalian yang mengkonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi ini berharga mahal, sodara-sodara! Anda hanya mengambil 10% manfaat dari uang yang anda bayar untuk suplemen ini, dan membuang 90%-nya di toilet, yang kalau di tempat umum kemungkinan besar harus bayar (means, mengeluarkan uang lagi). AND WHAT ARE YOU DOING EXACTLY? Tidak efisien dan tidak efektif!

Beberapa iklan sempat saya cemooh, karena menawarkan sesuatu yang 'instant' tapi tampak bodoh untuk saya. Contohnya ya iklan vitamin C ini. Lebih baik mengkonsumsi buah-buahan kaya vitamin (yang isinya tidak hanya vitamin C thok!) setiap hari, daripada minum suplemen vitamin C dosis tinggi tapi kadang-kadang atau hanya menjelang/saat sakit saja. Percuma, toh terbuang 90%. Padahal dari buah-buahan kita dapat serat, vitamin lain (misalnya vitamin A di kulit apel), mineral (misalnya kalium di pisang), rasa enak (enakan mana sih, suplemen sama jeruk segar?), dan pelatihan pencernaan (eits jangan salah! kalau jarang dipake, pencernaan -mulai dari gigi sampai usus- bisa jadi malas lho!).

Di antara kegunaan suplemen vitamin C adalah : 1) mengobati kekurangan vitamin C (scurvy, scorbut) [grade A; Strong scientific evidence for this use], 2) pencegahan flu (cold) hingga 50% dalam lingkungan ekstrim (sub-arktik, pelari maraton, pemain ski) [grade B; Good scientific evidence for this use], 3) memperbaiki penyerapan zat besi [grade B]. Di luar itu, pencegahan dan pengobatan flu secara umum (maksudnya untuk orang-orang dalam kondisi normal) termasuk dalam grade D (it may not work). Lengkapnya bisa dilihat di sini.

So, SAVE YOUR MONEY. Get other useful things to buy. Memang bener ilmu itu mahal, karena bisa mencegah pengeluaran untuk baanyaaaakkkk sekali hal-hal yang ternyata tak perlu dalam hidup ini

Note: comments in this article is based on MY personal opinion and not to be claimed as 'perbuatan tidak menyenangkan' (please lah.. pendapat pribadi di blog gue gitu loh!)

See original post and all comments here.

Read more!